Tugas Resume Materi Perilaku Konsumen
Eka Lestari (G74130044)
Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Kuliah
Perilaku Konsumen IKK233 (Consumer Behavior Class)
Department
of Family and Consumer Sciences
Prof
Dr Ir UJANG SUMARWAN, MSc (www.sumarwan.staff.ipb.ac.id ,
www.Ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id, (sumarwan@mb.ipb.ac.id)
Dr.
Ir. Lilik Noor Yuliati, MFSA
Dr. Ir.
Megawati simanjuntak, MS
Ir.
Retnaningsih, MS
Ir.
Md djamaluddin, MSc
Kuliah Selasa pagi 28 Februari 2017

Pengolahan
informasi pada diri konsumen terjadi ketika salah satu pancaindra
konsumen menerima input
dalam bentuk stimulus. Menurut Engel, Blackwell, dan Miniard (1995)
yang mengutip pendapat William McGuire menyatakan bahwa ada lima
tahap pengolahan informasi (the
information-processing model),
yaitu pemaparan (exposure),
perhatian (attention),
pemahaman (comprehension),
penerimaan (acceptance),
dan retensi (retention).
Tahap
pertama dari proses pengolahan informasi adalah pemaparan. Pemaparan
adalah kegiatan yang dilakukan oleh para pemasar untuk
menyampaikanstimulus kepada konsumen. Stimulus bisa berbentuk iklan,
kemasan, merek, dan hadiah. Stimulus adalah input
apa
pun yang dating dari pemasar yang disampaikan kepada konsumen melalui
berbagai media, seperti toko, iklan luar ruang, televisi, radio,
koran, majalah, dan lain-lain. Stimulus ini akan dirasakan oleh satu
atau lebih pancaindra konsumen. Konsumen yang merasakan stimulus yang
datang ke salah satu pancaindranya disebut sebagai sensasi. Sensasi
adalah respon langsung dan cepat dari pancaindra terhadap stimulus
yang datang. Sensasi dipengaruhi oleh ambang absolut (the
absolute threshold)
dan perbedaan ambang (differential
threshold).
Ambang absolut adalah jumlah minimum intensitas atau energy stimulus
yang diperlukan oleh seorang konsumen agar ia merasakan sensasi.
Titik dimana seorang konsumen merasakan perbedaan “ada” dan
“tidak ada” dari suatu stimulus, itulah yang disebut ambang
absolut stimulus bagi konsumen tersebut. Factor kedua yang
mempengaruhi sensasi adalah ambang berbeda. Batas perbedaan terkecil
yang dapat dirasakan antara dua stimulus yang mirip disebut sebagai
ambang berbeda (Schiffman dan Kanuk, 2010). Konsep ambang berbeda ini
dikenal dengan nama The
Just Noticeable Difference Threshhold
(JND) yang didefinisikan sebagai “the
minimum amount of difference in the intensity of a stimulus that can
be detected 50% of the time”
(Mowen dan Minor, 1998:70). Definisi lain dikemukakan oleh Blackwell,
Engel, dan Miniard (1995:475) “the
smallest change in stimulus intensity that will be noticed”.
Konsep JND dijelaskan oleh ilmuawan Jerman abad 19 yang bernama Ernst
Weber, yang mengemukakan bahwa JND antara dua stimulus bukan jumlah
absolut, tetapi jumlah relative terhadap intensitas stimulus pertama.
Hukum Weber menyatakan bahwa semakin besar intensitas dari stimulus
awal, maka semakin besar jumlah perunahan stimulus yang dibutuhkan
agar stimulasi kedua dapat dirasakan perbedaannya dengan stimulus
awal. Hukum Weber ini dapat dijelaskan dalam menentukan perubahan
harga antara dua produk.
Tahap
kedua dari proses pengolahan informasi adalah perhatian. Pada tahap
pertama, produsen memaparkan stimulus kepada konsumen. Tidak semua
stimulus yang dipaparkan dan diterima konsumen akan memperoleh
perhatian dan berlanjut dengan pengolahan stimulus tersebut. Hal ini
terjadi karena konsumen memiliki keterbatasan sumber daya kognitif
untuk mengolah semua informasi yang diterimanya. Karena itu konsumen
menyeleksi stimulus atau informasi mana yang akan diperhatikannya dan
akan diproses lebih lanjut, proses ini dikenal sebagai perseptual
selection.
Ada dua faktor utama yang mempengaruhi perseptual
selection
atau perhatian konsumen terhadap stimulus yang akan diperhatikannya
yaitu faktor pribadi dan faktor stimulus. Faktor pribadi adalah
karakteristik konsumen yang muncul dari dalam diri konsumen. Faktor
ini akan terjadi dengan adanya motivasi dan kebutuhan konsumen
sehingga ia akan sukarela mencari dan memperhatikan segala informasi
yang dijumpainya. Inilah yang disebut sebagai voluntarily
attention.
Konsumen biasanya melihat apa yang mereka harapkan untuk dilihat, dan
apa yang mereka harapkan untuk dilihat biasanya berdasarkan kepada
pengalaman, harapan, dan yang telah terbiasa dilihatnya (familiar).
Factor kedua yang mempengaruhi perhatian karakteristik stimulus.
Factor ini bisa dikontrol dan dimanipulasi oleh pemasar dan pengiklan
dengan tujuan utamanya untuk menarik perhatian konsumen. Konsumen
yang memperhatikan stimulus karena daya tarik dari stimulus tersebut,
misalnya karena suara yang keras, warna yang indah, atau ukuran huruf
yang besar, maka disebut sebagai perhatian yang tidak sukarela
(involuntarily
attention).
Para pemasar harus kreatif dalam berkomunikasi dengan konsumen, agar
apa yang disampaikan memperoleh perhatian yang serius dari konsumen.
Hal-hal yang harus diperhatikan yaitu, ukuran (size),
warna (color),
intensitas, kontras (contrast),
posisi (position),
petunjuk (directionality),
gerakan (movement),
kebauran (novelty),
isolasi (isolation),
stimulus yang disengaja ( “Learned”
Attention-Inducing
Stimuli),
pemberi pesan yang menarik (attractive
spokesperson),
perubahan gambar yang cepat (scene
changes).
Tahap
ketiga dari proses pengolahan informasi adalah pemahaman. Pemahaman
adalah usaha konsumen untuk mengartikan atau menginterpretasikan
stimulus. Engel, Blackwell, dan Miniard (1995) menyebut tahap ini
sebagai tahap memberikan makna kepada stimulus. Makna ini tergantung
kepada bagaimana stimulus diklasifikasikan dan dielaborasi dalam
kaitannya dengan pengetahuan konsumen. Pada tahap ketiga, konsumen
melakukan “perceptual
organization”
simulasi yang diterima konsumen berjumlah puluhan bahkan ratusan,
stimulus tersebut tidak diperlakukan sebagai hal yang terpisah satu
sama lainnya. Konsumen cenderung untuk melakukan pengelompokkan
stimulus, sehingga memandangnya sebagai satu kesatuan. Inilah yang
disebut sebagai perceptual
organization
atau stimulus
organization.
Prinsip ini dikembangkan oleh disiplin gestalt
psychology,
yang menguraikan bagaimana seseorang mengorganisasikan dan
mengintegrasikan stimulus untuk memperoleh makna yang menyeruluh. Ada
tiga prinsip perceptual
organization:
figure
and ground,
grouping,
dan closure.
Tahap
keempat dari pengolahan informasi adalah penerimaan. Seperti telah
dikemukakan sebelumnya bahwa tahap pemaparan, perhatian, dan
pemahaman merupakan persepsi konsumen. Setelah konsumen melihat
stimulus, memperhatikan, dan memahami stimulus tersebut maka
sampailah kepada suatu kesimpulan mengenai stimulus atau objek
tersebut. Inilah yang disebutu sebagai persepsi konsumen terhadap
objek tersebut atau citra (image)
produk. Persepsi konsumen tersebuut merupakan output
dari penerimaan konsumen terhadap stimulus. Di dalam konteks
pemasaran, maka persepsi konsumen bisa berupa persepsi produk,
persepsi merek, persepsi pelayanan, persepsi harga, persepsi kualitas
produk, persepsi took, atau persepsi terhadap produsen.
Tahap
kelima dari proses pengolahan informasi adalah retensi, yaitu proses
memindahkan informasi ke memori jangka panjang (long-term memory).
Informasi yang disimpan adalah interpretasi konsumen terhadap
stimulus yang diterimanya. Selanjutnya, apa yang tersimpan di dalam
memori konsumen akan mempengaruhi persepsinya terhadap stimulus yang
baru (exposure, attention, dan comprehention).